kritik arsitektur

Nama   : Eghi Darmawan
Kelas   : 4TB02
NPM   : 22312386

           1.  KRITIK DESKRIPTIF
Definisi
Bersifat tidak menilai, tidak menafsirkan, semata-mata membantu orang melihat apa yang sesungguhnya ada.  Kritik ini berusaha mencirikan fakta-fakta yang menyangkut sesuatu lingkungan tertentu. Dibanding metode kritik lain descriptive criticism tampak lebih nyata(factual).
v  Deskriptif mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota
v  Lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna bangunan.
v  Lebih dipahami sebagai sebuah landasan untuk memahami bangunan melalui berbagai unsur bentuk yang ditampilkannya
v  Tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete. Tetapi sekadar metode untuk melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya.

Jenis Metode Kritik Deskriptif :
a.       Kritik Depiktif Depictive Criticism (Gambaran bangunan)
Depictive kritik tidak dapat disebut kritik sepenuhnya karena tidak menggunakan pertanyaan baik atau buruk. Kritik ini focus pada bagian bentuk, material, serta teksture. Depictictive kritik pada sebuah bangunan jarang digunakan karena tidak menciptakan sesuatu yang controversial, dan dikarenakan cara membawakan verbal mengenai fenomena fisik jarang provocative atau seductive to menahan keinginan pembaca untuk tetap memperhatikan. Fotografi paling sering digunakan ketika ketelitian dalam penggambaran bahan bangunan diinginkan.
v  Static (Secara Grafis) 
Memfokuskan pada elemen-elemen bentuk (form), bahan (material), dan permukaan (texture). Dapat dilakukan melalui beberapa cara survey antara lain : fotografi, diagram, pengukuran dan deskripsi verbal (kata-kata)
v  Dynamic (Secara Verbal) 
Aspek dinamis depictive mencoba melihat bagaimana bangunan digunakan bukan dari apa bangunan dibuat. Aspek dinamis mengkritisi bangunan melalui : Bagaimana manusia  bergerak melalui ruang-ruang sebuah bangunan? Apa yang terjadi disana? Pengalaman apa yang telah dihasilkan dari sebuah lingkungan fisik? Bagaimana bangunan dipengaruhioleh kejadian-kejadian yang ada didalamnya dan disekitarnya?
v  Process (Secara Prosedural) 
Merupakan satu bentuk depictive criticism yang menginformasikan kepada kita tentang proses bagaimanasebab-sebab lingkungan fisik terjadi seperti itu. Kalau kritik yang lain dibentuk melalui pengkarakteristikan informasi yang datang ketika bangunan itu telah ada, maka kritik depictive (aspek proses) lebih melihat pada langkah-langkah keputusan dalam proses desain yang meliputi : 
Kapan bangunan itu mulai direncanakan dan Bagaimana perubahannya.

b.      Kritik Biografis Biographical Criticism (Riwayat Hidup)
Kritik yang hanya mencurahkan perhatiannya pada sang artist (penciptanya), khususnya aktifitas yang telah dilakukannya. Memahami dengan logis perkembangan sang artis sangat diperlukan untuk memisahkan perhatian kita terhadap intensitasnya pada karya-karyanya secara spesifik.

c.       Kritik Kontekstual Contextual Criticism (Persitiwa)
Untuk memberikan lebih ketelitian untuk lebih mengerti suatu bangunan, diperlukan beragam informasi dekriptif, informasi seperti aspek-aspek tentang sosial, political, dan ekonomi konteks bangunan yang telah didesain.  kebanyakan kritikus tidak mengetahui rahasia informasi mengenai faktor yang mempengaruhi proses desain kecuali mereka pribadi terlibat. Dalam kasus lain, ketika kritikus memiliki beberapa akses ke informasi, mereka tidak mampu untuk menerbitkannya karena takut tindakan hukum terhadap mereka. Tetapi informasi yang tidak controversial tentang konteks suatu desain suatu bangunan terkadang tersedia.

Contoh kritik deskriptif menurut metoda gambaran bangunan:
a.      Guangzhou Opera House

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnEOeNeFV6FD4yE_XMv1_1SxoPtHt4I2feiEHAWtbmNNzXehxS9OuH1Ga5LZV-1TTNiW06cus5qo5O8kJFEbSUtyYOhGsWJd8POCmYbrdjbdx2qr9LxClLYOvL50j8wGW3cn5stQsT-KE/s320/th_65d1300db123ce22f6e2569fb36764f8_01062_cp_ib_n2_higha4.jpg
Location: Guangzhou, Guangdong province, People's Republic of China
Client: Gluangzhou Municipal Government
Architect: Zaha Hadid
Facade engineering: KGE Engineering (Zhuhai, China)
Structural engineers: SHTK (Shanghai, China); Guangzhou Pearl River Foreign Investment Architectural Designing Institute 
Construction management: Guangzhou Construction Engineering Supervision Co. Ltd. (Guangzhou, China) 
Size: 70 000 m2
Costs: 220 milion $
Year: 2003-2010

Seperti kerikil dalam aliran dihaluskan oleh erosi, Guangzhou Opera House berdiri dalam harmoni yang sempurna dengan lokasi di tepi sungai. The Opera House adalah jantung dari perkembangan kebudayaan Guangzhou. Desain batu kembarnya yang unik meningkatkan nilai kota dengan cara menghadapkannya ke Sungai Pearl, menyatukan bangunan budaya yang berdekatan dengan menara keuangan internasional di Zhujiang kota baru Guangzhou. Auditorium 1.800 kursi dari Opera House merupakan teknologi akustik yang sangat terbaru, dan ruang multifungsi 400 kursi yang lenih kecil dirancang untuk pertunjukan seni, opera, dan konser. Desain berkembang dari konsep pemandangan alam dan interaksi yang menarik antara arsitektur dan alam; terlibat dengan prinsip-prinsip erosi, geologi, dan topografi. Desain Guangzhou Opera House sangat dipengaruhi oleh lembah-lembah sungai dan cara mereka diubah oleh erosi. Lipat baris dalam lanskap ini menentukan wilayah dan zona dalam Opera House, memotong ngarai dramatis interior dan eksterior untuk sirkulasi, lobi dan kafe, dan memungkinkan cahaya alami untuk menembus jauh ke dalam gedung. Transisi halus antara unsur-unsur yang berbeda dan tingkat yang berbeda melanjutkan analogi lanskap ini. Cetakan khusus glass-fibre reinforced gypsum (GFRC) telah digunakan untuk interior auditorium untuk melanjutkan bahasa arsitektur fluiditas dan kelembutan.[http://www.freeformstructures.com/]

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUICaWOBQst29ESVjnmBDbnJh_9xqz_WsP6h4pMBpgVlh8VQj9zNA3URwezbOicBNmylFyDUCX0_uCFZp6a1iYf1a8jVFoZLhk87rwWQaqQ0Sn1wIpKxzqahTxs_wSCvfd3gD78rkG2Lo/s1600/th_65d1300db123ce22f6e2569fb36764f8_01062_cp_vb_n6_higha4.jpg

b.      Contoh dari kritik arsitektur dengan pendekatan kritik deskriptif metoda depictive criticism (gambaran bangunan), yaitu Dengan menjelaskan secara terstruktur bagian-bagian bangunan yang mampu menggambarkan keseluruhan bangunan Teater Jakarta.

Teater Jakarta
Pada awalnya proyek ini bernama Grand Theater di Taman Ismail Marjuki yang akhirnya berubah menjadi Teater Jakarta. Gedung teater ini merupakan kelanjutan dari proyek masterplan yang didesain oleh Raul Renanda bersama Altelier 6 pada tahun 1995. Pelaksaannya baru dimulai pada tahun 1996 dan selesai dapat digunakan pada tahun 2010. Konsep ini gabungan vernacular di Indonesia yang berdasarkan ide dari struktur bangunan Toraja yang juga merupakan konsep bangunan joglo sebagai potongan melintang dari bangunan teater ini. disajikan dalam tatanan modern namun masih mempunyai nafas Indonesia.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMn8f6_3iGWp5y01-Hg0j4E0izfzWM7L0qwrDKxM2FeE7DP77aIgrylsiClaiCLBXfm_Ttp81-J_8JXxWAizLUPPAGBRcLLs_jS6aXoVZq75QkHfJ3dF5WMUh5LvR3Nh53vU92_Bji5gv7/s1600/9cfed23b1e5a79cf216b609c393777dd.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4Rn-zxEiPJlt0yY3NXmmi7SwNxGE494rvjjwqBU8NQwtAEaB3_qCqvUtkvkevlt-iVec67VNAiJnQaZUyR668Y9RCZo7tuTRdyggFZsWZlkfR4Uj-cIN1nFjh2AaSL0Z7Gjfp1gyyPSH8/s1600/4b5171ce90ed9afa4de5821e97830a13.jpg
Desain Teater Jakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiq82smAMa421J69bFAsIweA3ZHdVcLmvzwGX5yqCy7dM0jyxzpsoGv6OwP7c4UZr4LKDVBHnkScI1stX7JyDjumSGXyBsBKkKfzmgB3Yoc7wYBcCq-3mhqzDYy5_3fhJj4ux15bqU1TNxU/s1600/92666158f5702f728012dc919aba060d.jpg
Maket Teater Jakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMEHNNH4Fb6BNPaDicCDo4ZpBmJJVarlV7GcgZKEpqwpXddn1ZYNCd0Hslgv2zbnmyHvI4d1Tq3Y2mEkrl1FRqy1DCgP8fXU_pGMLApsTAtlQyR469n50_pgQV8BAwjUqH6OgtAnKyVULZ/s1600/teater_3_193737_vino_cms_.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgArFNtxDFXm5EZN43iWg-jSXBuC8dKUn9PeelEAbDfKNhPky4dmy6VzsF52uzYwhpU2ofl6XRFOEmGdLU9tNkeTNacqsRAvRJQad2yunTbzjgiV84cNeBsdszAgLbaQWtcWhsNOPI0pzw5/s1600/Taman-Ismail-Marzuki1.jpg
Tampak Depan Teater Jakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifUmSDGkzpl_ixnhtMYiQFl-hAYvcw91U3PZ6RphMt7741gIkLZAIgaEdCtplvfF3cf-0US6N9oYv8ug4aEaD3Mp6TUcf2wXJJdb7UQ9In578maMKY7F5KJei5tWI5AvATyhGdMOO58DNy/s1600/Taman-Ismail-Marzuki-1024x689.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmAEfReHc2cvLFtgqLGIAihFJUmX5rQkXMZv8UftYB9SEaAGsAisfclTXsSwZUCsITNWF_h_Uuc3aUg0nu9Ul0ILAn-nVmCn3JHjhkMQmKlV_qmRvdvRN_Jnsl2HPE6o4zv3obMF3kDBl7/s1600/gedung_kesenian.JPG
Tampak Samping Teater Jakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6RbTirz0Rq-f2R4jDydVs0d0xvlbQfBjqASer3aM6okORJ7DRNtibqkiUEgrq10h2Vqk7QiF7zLZFfzzEoJGkybEiBKw1rE8mYIvpWyu0UrBMOmg-ks4v5-2J-AFs_a9pEc0HcQb3ac-J/s1600/teater_2_193722_vino_cms_.jpg
Perspektif Teater Jakarta
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL-ZS_I5speOrQ1aFAChy4rQBBUzhu875hlHmGQhfV6NneOjwWfNb2m63oj_3a8GxzjXGHCvBaFydl4DjLymHgxsXoLoRFAzsG4H34PKm4NS-HZ_NRaYQ38KdVgcopNjyKEasnuU_V0Yr0/s1600/arsitektur-teater-jakarta-yang-unik.jpg
Detail Teater Jakarta
Ruang dengan kapasitas 1200 penonton dengan luas panggung 14 - 16 meter (w) dan 7 - 9 meter (h) dapat digunakan untuk berbagai pertunjukan (musik, teater, tari dll). Dilengkapi dengan ruang lobby, 12 ruang rias, ruang latihan serta sistem tata cahaya, tata suara, sistem auditorium dan pendingin ruangan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxv0FH-nHj4e5Sr-Xb3rImegPTeFZGS6nEksxUkm0JXnoyes6nTF90EZyEhvJpX4gXZ8ZqfGGe6HFiPOWRZtZhEuElsFEFXF9Mh9VPS3jtpTukMQM_hWoMlHtwdGsEF9JINPeToH9KtFPg/s1600/teater-taman-ismail-marzuki.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjS37lMJXOvDpFOl6z-FjmUb-OxzD_qzLCs5nvc2O3ZFguk_rgCWmaEzmRVHl9EfEKJTRacTg7H3d4WlBd8Z9g_4LqoHWbiHUH_TVqVDqSwyxdH8eDqMlDAshOKf_21f6o6xEJ1oBjPEphC/s1600/tim-2.png
Interior Teater Jakarta



Kelebihan Kritik Deskriptif
Dengan kritik ini kita bisa mengetahui suatu karya sampai seluk beluknya. Metode dari deskripsi ini dapat di kritisi secara induktif, dari hal yang umum ke khusus ataupun deduktif dari hal yang khusus ke umum. Metode kritik ini tidak bertujuan untuk pengembangan karya selanjutnya seperti metode impresionis yang menggunakan hasil kritik untuk karya selanjutnya.

Kekurangan Kritik Deskriptif
Hanya menjelaskan secara singkat tentang isi, proses, dan pencipta sebuah karya.


REFERENSI



2.      KRITIK INTERPRETIF
Definisi
Karakteristik utama kritik interpretif adalah kritikus dengan metode sangat personal. Tindakannya bagaikan sebagai seorang interpreter atau pengamat tidak mengklaim satu doktrin, sistem, tipe atau ukuran sebagaimana yang terdapat pada kritik normatif. Kritik Interpretif punya kecenderungan karakteristik sebagai berikut :
v  Bentuk kritik cenderung subjektif namun tanpa ditunggangi oleh klaim doktrin, klaim objektifitas melalui pengukuran yang terevaluasi.
v  Kritikus melalui kesan yang dirasakannya terhadap sebuah bangunan diungkapkan untuk mempengaruhi pandangan orang lain bisa memandang sebagaimana yang dilihatnya.
v  Menyajikan satu perspektif baru atas satu objek atau satu cara baru memandang bangunan (biasanya perubahan cara pandang dengan “metafor” terhadap bangunan yang kita lihat)
v  Melalui rasa artistiknya disadari atau tidak kritikus mempengaruhi orang lain untuk merasakan sama sebagaimana yang ia alami ketika berhadapan dengan bangunan atau lingkungan kota.
v  Membangun karya “bayangan” yang independen melalui bangunan sebagaimana miliknya, ibarat kendaraan.



Metode Interpretif
Kritik interpretif dibagi dalam tiga metode sebagai berikut yaitu advokasi, evokasi dan impresionis.
a.       Kritik Advokasi
v  Kritik ini tidak diposisikan sebagai penghakiman (judgement) sebagaimana pada Normatif Criticism.
v  Bentuk kritiknya lebih kepada sekadar anjuran yang mencoba bekerja dengan penjelasan lebih terperinci yang kadangkala juga banyak hal yang terlupakan
v  Isi kritik tidak mengarahkan pada upaya yang memandang rendah orang lain
v  Kritikus mencoba menyajikan satu arah topik yang dipandang perlu untuk kita perhatikan secara bersama tentang bangunan
v  Kritikus membantu kita melihat manfaat yang telah dihasilkan arsitek melalui bangunannya dan berusaha menemukan pesona yang kita kira hanya sebuah objek menjemukan.
v  Dalam hukum kritik advokasi,  kritiknya tercurah terutama pada usaha mengangkat apresiasi pengamat.

b.      Kritik Evokasi
K a r a k t e r i s t i k
v  Evoke : menimbulkan, membangkitkan
v  Ungkapan sebagai pengganti cara kita mencintai bangunan
v  Menggugah pemahaman intelektual kita atas makna yang dikandung bangunan
v  Membangkitkan emosi rasa kita dalam memperlakukan bangunan
v  Kritik evokatif tidak perlu menyajikan argumentasi rasional dalam menilai bangunan
v  Kritik evokatif tidak dilihat dalam konteks benar atau salah tetapi makna yang terungkap dan penglaman ruang yang dirasakan.
v  Mendorong orang lain untuk turut membangkitkan emosi yang serupa sebagaimana dirasakan kritikus
v  Kritik evokatif disampaikan dalam bentuk : naratif dan fotografi
- Kritik Naratif
   Contoh : Kritik Peter Green (1974)
Perjalanan ke Bawah Tanah London
Ketika aku turun memasuki usus-ususmu London…
Melalui mulutmu yang lembab
Melalui bibirmu yang kering
Melalui ubinmu yang retak dan jalanmu yang penuh luka
Melalui eskalatormu yang tiada berujung
Bergerak menggelinding dalam temaram cahayamu
Bergelantung dalam kompartemenmu yang merana
Bergelantung melintasi seluruh kota
Bergelantung melintasi benua
Bergelantung sembari menggapai keseimbangan
Dan membaca dengan sebelah tangan koran-koran raksasa
Jiwa melemah menghirup lagi udara yang telah berpuluh-puluh kali dihirup
Aku mengelana dalam mimpi yang memuakkan
Melewati dinding-dindingmu yang kasar
Dan lorong-lorongmu yang bisu
Menari-nari berjejalan di sela tempat dudukmu yang mahal
Dan ruang dansa yang lurus membosankan
Di kerumunan teman yang tak pernah kukenal
Menuju keterasingan..
Musik yang tak berirama..
Kadang berdentum…
Kadang sunyi..
Diselingi cahaya yang melintas
Kadang terang berkilau
Kadang pendar temaram
Lintasanmu meliuk di bawah tanah
Menembus jalan-jalan sungai-sungai dan rumah-rumah
Kadang turun menghunjam naik menukik dan…
Kadang melata di tengah perut bumi..
Debu terbang di sela asapmu
Menyusup dan menyergap sesak napasku
Menggerincing di sepanjang lintasan listrikmu
Angkutan London…
Menyisakan kehangatan masa lalu
Di Sloane Square, seorang anak lai-laki melintas
Menggiring seekor sapi dengan tambatan
Sapi putih kecoklatan
Hidung besar kemerahan
Ekornya menari-nari mengibas serangga
Puttingnya membengkak
Menatap dengan mata mengkilap
Sementara hitam di luar jendela mulai merangkak
Dan mata dipenuhi oleh malam yang buta
Aku berdiri dalam hati yang mulai panas
Hening di tengah terowongan
Dan berdiri di atas kereta yang tak sempurna
Sisa debu kemarin masih menempel
Koran-koran berdesir mengumpulkan kesadaranku yang hamper hilang
Dan batuk-batuk gelisah masih belum reda juga
Kami harus menyusuri malam
Duduk kembali mengunci dalam kesendirian
Kepala terkulai lelap
Dengkur-dengkur kelelahan menyelinap dalam hening
Kelopak mata lelah kehilangan tenaganya
Lantai kereta….
Adalah lautan surat kabar, bungkus permen, puntung rokok dan kertas-kertas tisu
Sesekali sepeda motor di luar menderu melawan hiruk musik tak berirama
Lalu kembali sunyi
Dalam jam kami tak pernah tahu telah berapa lama waktu habis bersamanya di sana
Hari pasti telah berlalu
Dan wanita hamil menunggu di atas kaki letih dan kaku
Bau pesing keringat dan air seni berbaur menciptakan aroma baru
Hari tampak menunggu malam
Bintang berpendar di luar di sela garis hitam jendela
Pada jam lima pagi
Mereka bergerak kembali tanpa peringatan
Di Kensington Selatan..
Pintu-pintu terbuka
Mereka berhamburan bagai terlempar dalam tumpukan jerami
Angin sepoi dingin menyelinap melalui celah kereta
Ia kembali melintas seperti kemarin
Ia tak pernah lelah menyusuri seluruh kota, benua dan…
Seluruh tempat pijak peradaban manusia…

     - Fotografi :
Intensify (Kemudahan pemahaman)

intensify 
 
 






                                   



Juxtaposition ( Penyandingan sesuatu yang kontras)

Juxtaposisi
 
 





Ethereal (Suasana pemahaman yang mudah dari referensi)

ethereal
 
 













     

Assosiation ( Pengkaitan dengan hal-hal lain yang eksotik)

asosiasi
 
 










   Momen of Thruth ( Momen kebenaran)

momen%20kebenaran
 
 










c.       Kritik Impresionis
      K a r a k t e r i s t i k
v  Seniman mereproduksi karyanya sendiri atau orang lain dengan konsekuensi adanya kejemuan, sedang kritik selalu berubah dan berkembang. Impresi terhadap karya mempengaruhi perancang untuk membuat perubahan dan perkembangan dalam karya-karya berikutnya.
v  Kritik impressionis adakalanya dipandang sebagai parasit karena seringkali menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya keseniannya. Karya yang telah ada menjadi kendaraan untuk menghasilan karya seni lain melalui berbagai metode penyajian.
v  Karya yang asli berjasa bagi kritik sebagai area eksplorasi karya-karya baru yang berbeda. Begitu juga sebaliknya kritik akan membaerikan impresi bagi pengkayaan rasa, pengalaman dan apresiasi terhadap perkembangan teoritik ke depan.
v  Kecantikan, memberi kepada penciptaan unsur yang universal dan estetik, menjadikan kritikus sebagai kreator, dan menghembuskan ribuan benda yang berbeda yang belum pernah hadir dalam benaknya, yang kemudian terukir pada patung-patung, terlukis pada panel-panel dan terbenam dalam permata-permata.
v  Kritik Impresionistik dapat berbentuk :
            Verbal Discourse                     : Narasi verbal puisi atau prosa
            Caligramme                             : Paduan kata yang membentuk silhouette
            Painting                                               : Lukisan
            Photo image                           : Imagi foto
            Modification of Building                    : Modifikasi bangunan
            Cartoon                                               : Focus pada bagian bangunan sebagai  lelucon
Contoh kritik impressionis (narasi verbal) yang menggunakan ruang sebagai media berkarya.

 

THE ROOM

Day Lewis

Inilah dunia dimana saya bisa pergi
Dan menceritakan segala rahasiku kepadanya
Dalam kamarku …

Dalam dunia telah kukurung diriku
Dari seluruh kecemasan dan ketakutanku
Dalam kamarku …

Dapatkah mimpi-mimpiku dan seluruh rencanaku
Kubangun dan kumohonkan
Dapatkah tangis dan keluhanku
Terhibur seperti kemarin

Sekarang telah gelap dan aku sendiri
Tetapi aku tidak takut
Dalam kamarku….

caliagrame
 

fotoimage
 

Imagi Foto
 

Calliagrame
 

cartoon
 

Cartoon
 
 





 

 











K e u n t u n g a n  K r i t i k  I m p r e s s i o n i s

v  Menggugah imaji tentang fakta menjadi lebih bermakna
v  Dengan cepat membuat pengamat menduga-duga sesuatu yang lain lebih dari sekadar sebuah bangunan fisik
v  Menggiring pengamat untuk lebih seksama melihat sebuah karya seni
v  Mampu membangkitkan analisis objek yang sebelumnya tampak sulit atau sebaliknya membuat kompleks yang sebelumnya tampak sederhana
v  Membuat lingkungan lebih terlihat dan mudah diingat

Contoh Kritik Interpretif
Objek : Museum Serangga
Lokasi : Taman Mini Indonesia Indah

Museum Serangga di Taman Mini "Indonesia Indah" memiliki luas gedung 500 m2. Peresmian dan pembukaannya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, yaitu Bapak Soeharto dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-18 Taman Mini Indonesia Indah, tanggal 20 April 1993. Saat baru memasuki area museum, pengunjung akan disambut oleh gerbang Museum Serangga dan Taman Kupu yang bertengger baliho kupu-kupu sayap burung. Di depan pintu museum duduk patung kumbang tanduk raksasa dan sepasang daun pintu kaca patri bermotif kupu-kupu.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW6MR2nDkw4XjgjeoVziCqUPNdieQ_XtieXZXuQ9zSYTEMOOFK2-qzsYxBTiz_ndDawulsJ7FR85fl4qmecyOfnHUXo0gaFqKhetRye7cMwidtl96N9JYrKNecHBCcqhLemzwl8HrsoBGF/s320/id-jkt-tmii-serangga1.jpg

Gambar 1. Gambar Patung Kumbang Tanduk Raksasa


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh50XMDJIReJqTLmw6PoSAslAg0PRb-vWsMQLgyGsJisUfFIh1VocbXJIJCuZwSHP0gkuLiLbesrAdikE6_fv1T6u0vb2diLNyrWSH1sLQy2faVqfs2vYk5h4j61ppJZUfEDiTEWGnMmeHp/s320/taman-kupu-backgate.jpg

Gambar 2. Gambar Pintu Masuk Taman Kupu - Kupu


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixNDc81svekyPuG01jPcm6B9szT4vuYOu313Sv3gOepPEERpVEXHNHcPjN4HAHmuD9r1TQnTU3VoCCR_Kde4z0PHSyvmrN8ZdmWEDVtasyIVtpo8AoPmzigIgJ7l4J6v-OWAaHX3kCcWRJ/s1600/CAM00740.jpg

Gambar 3. Gambar Pintu MasukBangunan yang Terbuat dari
Kaca Patri yangBermotif Kupu - Kupu


Untuk ukuran sebuah museum, museum serangga di TMII ini memiliki ukuran yang kecil. Tetapi museum ini memiliki koleksi yang baik bagus dan terawat. Ruang pameran yang bersih, pencahayaan yang cukup baik, dan memiliki pendingin ruangan (meskipun pada saat saya berkunjung, hanya beberapa ruangan saja yang
terasa sangat dingin). Permasalahannya adalah tiket untuk mengunjungi museum serangga dengan museum air tawar dijadikan satu sehingga cukup menjadikannya museum dengan tarif masuk yang agak sedikit mahal.
  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGXi52hi9eZFOc-MZRtBgXtf3T5DyCFeINGEX_15S1MQ6KR4sXKhXHflsxvkhAxya21B8-HthCB0Z5nMCX1I14LGdlXobXTnas_rGYJws1YS9RYnD6TCJ8KQBhvqQW0YxIjECT4ECBbrHP/s1600/download+%25281%2529.jpg
Gambar 4. Gambar Kumpulan Berbagai Jenis Serangga dari Nusantara
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeO0t_cCf9c6yuXk5dFNur9uj30R36UKXoTpoNTdLqfWqtS5u3JAB3qv-89I3nNypPsHMFrU5iPNGh9FTXfozalGrsemHpQ7fIhjIxJ5iOpNHyxikR5W3Cn7HfZ1zZ9k-U0nlnd0rkEmpA/s1600/download.jpg
Gambar 5. Gambar Peta Kupu - Kupu Di Indonesia
Koleksi museum terdiri sekitar 600 jenis serangga, didominasi oleh kupu-kupu (sekitar 250 jenis) dan kumbang (sekitar 200 jenis). Koleksi lain mencakup belalang ranting dan belalang daun, capung dancapung jarum, jangkrik
dan gangsir, kecoak, ngengat, orong-orong/anjing tanah,kerabat tonggeret. Selain spesimen serangga awetan kering, museum menampilkan koleksi serangga hidup yaitu belalang ranting dan belalang daun. Seluruh koleksi dipamerkan dalam kotak kaca. Dengan pencahayaan dan penataan yang cukup baik.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhg1uO9cg2q1_PIE9Rrf1ONrdo3dUblv-348x87B75wNsH-QAaUbeNeUEAaYyRcOt42Db89dP-aQJVEVFNuy7Fg6hRR6d0E8BOXDgAW0pdu5MJ8AbejGaW2FDyNn5rixq8pCpy8aorCNdV7/s1600/images.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbd4WU1KowzWIgWTgCh711J3-K9d-2l3SNOk-Z8PKa6oVZlaXr6kFvZliXMZIUg9Y8LA_m8yjXlPAGGUDdIUXHm075P2A6_k-hOWjfAKuKLvdQ4hAFAb08jyGAMkLpVORq3sAu0aF3581v/s1600/images+(1).jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFg0xRuihcY7VSmJcEKrX1cRzxqulc9O1e2Bw3TwjnhxHtvZPtcbgH-m1QMumKWvGmd-Pt5FAgdsayr7FfNUGe3soPf_QBZ6AdKw2_f5EDtk0GBYaMAmbkDJE4mQQEojJ9RMGGeauVIRvF/s1600/download+(2).jpg

Gambar 6. Gambar Beberapa Koleksi Museum Serangga



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjavgbkHfiCzw2pYfc6czaeS2KtwNwSyKBeiQFC0kxOU61T-c9PGUVH3_djOVrhVrcDX9YDbQapCIN7Xg40oLs6_qYyOgKxu1bjua-PYLmybJAjJFw_g9MCnDVvtDiJ46Ga-4wY9UcUV8aV/s1600/images+(2).jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1CwhgtIPAGfXU6QjC__Z3F4B_XpZCJUYQUc0htWfIvg1M4x393UQwLRmHOrxQeYp1COHKgZzRBiqqiUMz3Y4ix0w5K6gJZyAyXJKyGwyRswMnXnKucJH0o0w5xQUiItTz-9PTX3nifMd2/s1600/CAM00720+(1).jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9MiQ_S1mnMTKi0ep2mRX_j-7rPswBmqpF28UTbQ3jQ0vJY9GEEJKlCTXRaafur26JrphBBewQ6_2d65J_7Fx9wb9o7Zu0a5W7IEW_lCYB0IVwmH6EsQvA_LSM48QHWxH9uKOnqtBsW8gg/s1600/CAM00717.jpg

Gambar 7. Gambar Beberapa Pencahayaan yang Dimiliki Museum Serangga

Secara keseluruhan museum ini memang cukup terawat dan bagus, hanya saja dalam penataan tata ruang ataupun interior dan keseluruhan bentuk bangunan terlihat monoton.

Kelebihan Kritik Interpretif
Didalam kritik ini, tindakan seorang interpreter atau pengamat tidak mengklaim satu doktrin, sistem, tipe atau ukuran.

Kekurangan Kritik Interpretif
Hanya menyajikan satu arah topik yang dipandang perlu untuk kita perhatikan secara bersama tentang bangunan.


REFERENSI




3.      Kritik Impressionistik
Definisi
v  Seniman mereproduksi karyanya sendiri atau orang lain dengan konsekuensi adanya kejemuan, sedang kritik selalu berubah dan berkembang
v   Kritik impressionis adakalanya dipandang sebagai parasit
v  Kritik impressionis menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya keseniannya
v  Karya yang asli berjasa bagi kritik sebagai area eksplorasi karya-karya baru dan berbeda
v  Kecantikan, memberi kepada penciptaan unsur yang universal dan estetik, menjadikan kritikus sebagai kreator, dan menghembuskan ribuan benda yang berbeda yang belum pernah hadir dalam benaknya, yang kemudian terukir pada patung-patung, terlukis pada panel-panel dan terbenam dalam permata-permata.

Bentuk Metode Kritik Impresionistik
Kritik Impresionistik dapat berbentuk :
v  Verbal Discourse              : Narasi verbal puisi atau prosa
v  Caligramme                        : Paduan kata membentuk silhouette
v  Painting                                : Lukisan
v  Photo image                      : Imagi foto
v  Modification of Building : Modifikasi bangunan
v  Cartoon                                : Focus pada bagian bangunan sebagai lelucon

Contoh Metode Kritik Impresionistik
v  NARASI VERBAL yang menggunakan ruang sebagai media berkarya.

THE ROOM
Day Lewis

Inilah dunia dimana saya bisa pergi
Dan menceritakan segala rahasiku kepadanya
Dalam kamarku …
Dalam dunia telah kukurung diriku
Dari seluruh kecemasan dan ketakutanku
Dalam kamarku …
Dapatkah mimpi-mimpiku dan seluruh rencanaku
Kubangun dan kumohonkan
Dapatkah tangis dan keluhanku
Terhibur seperti kemarin
Sekarang telah gelap dan aku sendiri
Tetapi aku tidak takut
Dalam kamarku….

v  Contoh lainnya metode kritik Impressionistik


Kelebihan Kritik Impressionistik
v  Menggugah imaji tentang fakta menjadi lebih bermakna
v  Dengan cepat membuat pengamat menduga-duga sesuatu yang lain lebih dari sekadar sebuah bangunan fisik
v  Menggiring pengamat untuk lebih seksama melihat sebuah karya seni
v  Mampu membangkitkan analisis objek yang sebelumnya tampak sulit atau sebaliknya membuat kompleks yang sebelumnya tampak sederhana
v  Membuat lingkungan lebih terlihat dan mudah diingat

Kekurangan Kritik Impressionistik
v  Kritik seolah tidak berkait dengan arsitektur
v  Interpretasi menjadi lebih luas dan masuk dalam wilayah bidang ilmu lain
v  Pesan perbaikan dalam arsitektur tidak tampak secara langsung
v  Menghasikan satu interpretasi yang bias tentang hakikat arsitektur.

REFERENSI



 4.      KRITIK NORMATIF
Definisi
Hakikat kritik normatif adalah adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip. Dan melalui ini kualitas dan kesuksesan sebuah lingkungan binaan dapat dinilai. Norma bisa jadi berupa standar yang bersifat fisik, tetapi adakalanya juga bersifat kualitatif dan tidak dapat dikuantifikasikan. Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi. Sebagai contoh adalah slogan yang berkembang pada beberpa Negara dan berperan kuat terhadap perkembangan arsitektur seperti form follow function.

Metode Kritik Normatif
Karena kompleksitas, abstraksi dan kekhususannya kritik normatif perlu dibedakan dalam metode sebagai berikut :
v  Metoda Doktrin ( satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur)
v  Metoda Sistemik ( suatu norma penyusunan elemenelemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan)
v  Metoda Tipikal ( suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik)
v  Metoda Terukur ( sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif)


Ø  Metoda Kritik Doktrinal
Doktrin sebagai dasar dalam pengambilan keputusan desain arsitektur yang berangkat dari keterpesonaan dalam sejarah arsitektur.
v  Sejarah arsitektur dapat meliputi : Nilai estetika, etika, ideologi dan seluruh aspek budaya yang melekat dalam pandangan masyarakat.
v  Melalui sejarah, kita mengenal : Form Follow Function - Function Follow Form Form Follow Culture - Form Follow World View Less is More - Less is Bore Big is beauty – Small is beauty Buildings should be what they wants to be Building should express : Structure, Function, Aspiration, Construction Methods, Regional Climate and Material Ornament is Crime - Ornament makes a sense of place, genius loci or extence of architecture.
v  Doktrin bersifat tunggal dalam titik pandangnya dan biasanya mengacu pada satu ‘ISME’ yang dianggap paling baik. K E U N T U N G A N M E T O D A K

Ø  Kelebihan Metoda Kritik Doktrinal
v  Dapat menjadi guideline tunggal sehingga terlepas dari pemahaman yang samar dalam arsitektur
v  Dapat memberi arah yang lebih jelas dalam pengambilan keputusan
v  Dapat memberikan daya yang kuat dalam menginterpretasi ruang
v  Dengan doktrin perancang merasa bergerak dalam nilai moralitas yang benar
v  Memberikan kepastian dalam arsitektur yang ambigu
v  Memperkaya penafsiran

Ø  Kekurangan Metoda Kritik Doktrinal
v  Mendorong segala sesuatunya tampak mudah
v  Mengarahkan penilaian menjadi lebih sederhana
v  Menganggap kebenaran dalam lingkup yang tunggal
v  Meletakkan kebenaran lebih kepada pertimbangan secara individual
v  Memandang arsitektur secara partial
v  Memungkinkan tumbuhnya pemikiran dengan kebenaran yang “absolut”
v  Memperlebar tingkat konflik dalam wacana teoritik arsitektur

Ø  Sejarah Eksisting Doktrin
v  Utilitarian
-Doktrin yang mengacu pada progress harga
-Keputusan arsitektur pada pertimbangan efisiensi dan efektifitas
v  Preservasionist
- Doktrin yang cenderung mengacu pada isme lama
-Berorientasi pada paham yang bersifat immateri
-Tidak berorientasi pada bahan atau material
v  Tidy Minded
- Doktrin yang mengacu pada keteraturan
-Tahap pengambilan keputusan yang sistematik
-Berpikir detail dan cermat sebelum melanjutkan pada langkah  berikutnya
v  The Improver
- Berpikir inovatif
- Menggali kemungkinan-kemungkinan baru dari kegagalan masa lalu
-Menyesuaikan pola-pola yang ada terhadap pola-pola baru yang muncul -Ada keinginan yang kuat untuk mempertinggi kualitas karena kebaruan

Ø  Kesimpulan dalam Metoda Kritik Doktrinal
v  Tidak etik menggunakan keberhasilan arsitektur masa lalu untuk bangunan fungsi mutakhir
v  Tidak etik memperlakukan teknologi secara berbeda dari yang dilakukan sebelumnya
v  Jika akan mereproduce objek yang muncul pada masa lalu untuk masa kini harus dipandang secara total dan dengan cara pandang yang tepat
v  Bahwa desain arsitektur selalu mengekspresikan keputusan desain yang tepat
v  Secara sosial bangunan akan tercela bila ia merepresentasikan sikap seseorang dan tidak didasarkan pada hasrat yang tumbuh dari kebutuhan masyarakatnya

REFERENSI


5.      KRITIK TERUKUR
Definisi
Sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif. Metode kritik dengan melihat ukuran dan besaran ruang yang digunakan dalam sebuah bangunan dengan acuan standarisasi dengan bangunan lainnya. dan juga dapat mengacu pada standarisasi yang telat ditetapkan dalam Data Arsitektur (Neufert Architect's Data) dan Time Saver.

Hakikat Metode Kritik Terukur
v  Kritik Pengukuran menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu.
v  Norma pengukuran digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini sebagai bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam.
v  Pengolahan melalui statistik atau teknik lain akan mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi.
v  Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.
v  Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa : Ukuran batas minimum atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang dikehendaki Contoh : Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard normatif : Batas maksimal ketinggian bangunan, sempadan bangunan, Luas terbangun, ketinggian pagar yang diijinkan.
v  Adakalanya standard dalam pengukuran tidak digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik sebagai sebuah norma Contoh : Bagaimana Huxtable menjelaskan tentang kesuksesan perkawinan antara seni di dalam arsitektur dengan bisnis investasi konstruksi yang diukur melalui standardisasi harga-harga.
v  Norma atau standard yang digunakan dalam Kritik pengukuran yang bergantung pada ukuran minimum/maksimum, kondisi yang dikehendaki selalu merefleksikan berbagai tujuan dari bangunan itu sendiri.
v  Tujuan dari bangunan biasanya diuraikan dalam tiga ragam petunjuk sebagai beikut: Tujuan Teknis ( Technical Goals) Tujuan Fungsi ( Functional Goals) Tujuan Perilaku ( Behavioural Goals)

Tujuan Teknis Metode Kritik Terukur
Kesuksesan bangunan dipandang dari segi standardisasi ukurannya secara teknis Contoh : Sekolah, dievaluasi dari segi pemilihan dinding interiornya. Pertimbangan yang perlu dilakukan adalah :
v  Stabilitas Struktur
- Daya tahan terhadap beban struktur
-Daya tahan terhadap benturan
-Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan
-Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem
v  Ketahanan Permukaan Secara Fisik
-Ketahanan permukaan
-Daya tahan terhadap gores dan coretan
-Daya serap dan penyempurnaan air
v  Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan
- Kebersihan dan ketahanan terhadap noda
-Timbunan debu

Tujuan Fungsi Metode Kritik Terukur
Berkait pada penampilan bangunan sebagai lingkungan aktifitas yang khusus maka ruang harus dipenuhi melalui penyediaan suatu area yang dapat digunakan untuk aktifitas.
Pertimbangan yang diperlukan :
v  Keberlangsungan fungsi dengan baik
v  Aktifitas khusus yang perlu dipenuhi
v  Kondisi-kondisi khusus yang harus diciptakan
v  Kemudahan-kemudahan penggunaan,
v  Pencapaian dan sebagainya.

Tujuan Perilaku Metode Kritik Terukur
v  Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu dan Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang terhadap kualitas bentuk fisik bangunan. Behaviour Follow Form
v  Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson, Daniel,(ed) “ManEnvironment Interaction-5” Environmental Design Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :
Persepsi Visual Lingkungan Fisik
v  Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.

Sikap umum terhadap aspek lingkungan fisik
v  Hal ini mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam objek atau situasi
v  Hal ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.

Perilaku yang secara jelas dapat diobservasi secara langsung dari perilaku manusia.
v  Dalam skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompok-kelompok sosial dsb.
v  Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture, mesin atau penutup permukaan.
v  Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumen-instrumen tentang sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi langsung, observasi rangsangan sensor.

Kelebihan Kritik Terukur
Metodenya terukur secara kuantitatif. Memiliki Pertimbangan yang diperlukan dalam tujuan fungsi metode kritik terukur.

Kekurangan Kritik Terukur
kegiatan pendapat atau tanggapan terhadap sesuatu hal yang disertai dengan uraian dan pertimbangan baik buruknya hal tersebut , tetapi mengkritik biasanya lebih cenderung dikaitkan dengan hal-hal yang dinilai kurang baik atau buruk.


REFERENSI




 6.      KRITIK TYPIKAL
Definisi
            Kritik Tipikal/Kritik Tipical (Typical Criticism) adalah sebuah metode kritik yang termasuk pada kritik Kritik Normatif (Normative Criticism). Kritik Tipikal yaitu metode kritik dengan membandingkan obyek yang dianalisis dengan bangunan sejenis lainnya, dalam hal ini bangunan publik.

Hakikat Metode Kritik Typical
v  Studi tipe bangunan saat ini telah menjadi pusat perhatian teoritikus dan sejarawan arsitektur karena desain menjadi lebih mudah dengan mendasarkannya pada type yang telah standard, bukan pada innovative originals (keaslian inovasi)
v  Studi tipe bangunan lebih didasarkan pada kualitas, fungsi (utility) dan ekonomi lingkungan arsitektur yang telah terstandarisasi dan terangkum dalam satu typologi
v  Menurut Alan Colquhoun (1969), Typology & Design Method, in Jencks, Charles, “Meaning in Architecture’, New York: G. Braziller : Type pemecahan standard justru disebut sebagai desain inovatif. Karena dengan ini problem dapat diselesaikan dengan mengembalikannya pada satu convensi (type standard) untuk mengurangi kompleksitas.
v  March, Lionel and Philip Steadman (1974), The Geometry of Environment, Cambridge : MIT Press, bahwa pendekatan tipopolgis dapat ditunjukkan melalui tiga rumah rancangan Frank Lloyd Wright didasarkan atas bentuk curvilinear, rectalinear dan triangular untuk tujuan fungsi yang sama.
v  Typical Criticsm diasumsikan bahwa ada konsistensi dalam pola kebutuhan dan kegiatan manusia yang secara tetap dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan lingkungan fisik

Elemen Kritik Typical
v  Struktural
(Struktur) Tipe ini didasarkan atas penilaian terhadap lingkungan berkait dengan penggunaan material dan pola yang sama.
• Jenis bahan
• Sistem struktur
 • Sistem Utilitas dan sebagainya.
v  Function (Fungsi)
Hal ini didasarkan pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang sama. Misalnya sekolah akan dievaluasi dengan keberadaan sekolah lain yang sama.
• Kebutuhan pada ruang kelas
• Kebutuhan auditorium
 • Kebutuhan ruang terbuka dsb.
v  Form (Bentuk)
• Diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan memungkinkan untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain.
• Penilaian secara kritis dapat difocuskan pada cara bagaimana bentuk itu dimodifikasi dan dikembangkan variasinya.
 • Sebagai contoh bagaimana Pantheon telah memberi inspirasi bagi bentuk-bentuk bangunan yang monumental pada masa berikutnya.

Menurut Mc. Donald (1976), The Pantheon, Cambridge: Harvard : Secara simbolis dan ideologis Pantheon dapat bertahan karena ia mampu menjelaskan secara memuaskan dalam bentuk arsitektur, segala sesuatunya secara meyakinkan memenuhi kebutuhan dan inspirasi utama manusia. Melalui astraksi bentuk bumi dan imaginasi kosmos dalam bentuk yang agung. Arsitek Pantheon telah memberi seperangkat simbol transedensi agama, derajad dan kekuatan politik.

            Contoh Analisis Bangunan yang Menggunakan Metode Kritik Typikal
1.      Obyek yang dianalisis                   : Depok Town Square
Bangunan pembanding sejenis      : Cilandak Town Square

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBP21gNBcDrCT52r3dSdtwojUsbNk_MC1h1iiuRvgUqvMt35r5ZmSwn6zVYcHpQ87rpgMUsKBNSMHzUOFNoSXbdB50HnfBZKgp_7HHGAHdAQnmr17HyyVeM9pfk1QMrqhvQNL38zG585U/s1600/1d.jpg
Depok Town Square (Detos)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0VqgHIwT3d9IARiUbWjvpCvBX7ER-A4J8qth9UOWrrmhGG992M8TyT12zr4TG90Yex3QdHeFytNdKRDK_uX1zMDGfrJgxeUFx8RyJihJkmGhRUR4g3a-51wks2cG57S3OcjuvlLlkkg8/s1600/2d.jpg
Cilandak Town Square (Citos)

Depok Town Square adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di Jalan Margonda Raya, Depok. Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan untuk berbelanja bagi penduduk yang bermukim di Depok.
Cilandak Town Square adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di daerah Cilandak. Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan untuk berbelanja bagi penduduk yang bermukim di daerah Jakarta Selatan.
Dalam hal ini Citos merupakan salah satu Town Square pertama yang berdiri di kota Jakarta dan telah banyak menginspirasi bangunan publik sejenisnya dalam hal perancangan arsitekturnya. Maka dari itu dengan menggunakan metode kritik tipikal akan dibandingkan kedua bangunan public sejenis ini dengan parameter yang disediakan sehingga dapat diketahui apakah Detos sudah memenuhi standar untuk menjadi sebuah Town Square di kota Depok.
v  Keterangan :
Detos : Depok Town Square
Citos   : Cilandak Town Square 
v  Elemen Struktur :
v  Jenis Bahan;
·         Detos :
                          Fasad bangunan        : kaca, beton dan besi
                          Struktur                     : kolom dan balok beton
                        Plat Lantai                 : keramik marmer
·         Citos :
                          Fasad bangunan        : kaca dan beton
                        Struktur                     : kolom dan balok beton
                        Plat Lantai                 : plat beton dengan finishing cat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBNfejYVpc3ttx_gYP1Qh58F5PFTtMXZLJcSYdU60Suh4wjm8cCjHgGmhXbE96DYJEcf3C5EJdxW74w1L3Winv3j0UYo9XdBRDlx3ztlRnej9Nb63dHqetDGpICbmi7ZIw15gXPKpZgzo/s1600/3d.jpg
Interior Depok Town Square

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdRc4MKoPAvK4KSytTHZHliTmnYXR8cCNdwIlzYLQgl7ZhVIWHL3I7gc6d3hpzY-Pv58tOfqtPcxI12JLjPGJafGGBwnSNlLdncRmgehtN31NhbQtInX8oLHU2UX7tWapod9SyMTvOhN0/s1600/4d.jpg
Interior Cilandak Town Square

v  Sistem Struktur
Detos  : kolom dan balok beton dengan pondasi tiang pancang
Citos    : kolom dan balok beton dengan pondasi tiang pancang

v  Sistem Utilitas
Detos  : sistem utilitas terlihat baik, dan fasilitas pendukung ruangan seperti ac, listrik dan supply air semua berjalan dengan lancar.

Citos    : sistem utilitas terlihat baik, dan fasilitas pendukung ruangan seperti ac, listrik dan supply air semua berjalan dengan lancar hanya saja kebersihan dan keterawatannya jauh lebih baik dari Detos.

v  Fungsi Bangunan
Detos  : Bangunan komersial yang lebih mengarah ke pusat perbelanjaan. Oleh karena itu Detos memiliki banyak kios-kios untuk disewakan dibandingkan dengan Citos.
Citos    : Bangunan komersial yang lebih mengarah ke tempat hang-out(berkumpul). Memiliki banyak cafe dan restoran dengan konsep interior yang baik.

v  Bentuk Bangunan
Detos  : Bentuk bangunan terlihat masif dan perancangannya lebih mengutamakan space untuk ruang dalam yang luas(memaksimalkan lahan untuk bangunan). Untuk memberikan efek modern dan asimetris pada fasad diberikan bentukan-bentukan yang unik dengan menggunakan material  yang bervariasi baik warna dan jenisnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1X2U7YaLSLG5NGw61xu4yMDaKg2Nm4wZvuQ5LzaJo2gEMMvom75edUigUzpoGckIjIKQGanaHzSyNAVsmttY7ONQln4gl0g1OH11WAFoWD-YWe2ja5Zd3lfeKHfL5Y8X9-iWU4Mw7YaU/s1600/5d.jpg
Fasad Depok Town Square
Citos    : Bentuk bangunan memanjang (linier) dan lebih mengutamakan perancangan ruang terbukanya, perancangan interior terlihat lebih terbuka dan sadar l;ingkungan dengan banyaknya teras dan balkon serta awning polikarbonat yang memberikan pencahayaan alami ketika siang hari.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiwGnu6gbYSNyqAfwiirfPIYcSKK7BCW2tlqq9wVP-RDtEI4bsFAN0KO6mWlBjWwYX13AA6uZcUyElQSlwGXJ_qJkejsMn_OXBN172y9aS-u67NSg9Ts9IVlI600ml5gmh7aqv3T32ETM/s1600/6d.jpg
Fasad Cilandak Town Square
Kesimpulan
Dari hasil analisis dengan metode tipikal didapat hasil bahwa bangunan Detos sudah cukup memenuhi kriteria untuk menjadi bangunan publik berdasarkan cukup banyaknya hasil yang sama dari parameter yang dijadikan standar. Citos sebagai bangunan Town Square yang pertama ada di Jakarta telah memberikan inspirasi bagi Depok Town Square untuk mengadopsi nilai-nilai dalam perancangan sebuah Town Square. Ada pun yang masih perlu diperhatikan adalah perancangan ruang terbuka harus diperhatikan agar kesan Town Square semakin terlihat.

            Kelebihan Kritik Typikal
v  Desain dapat lebih efisien dan dapat menggantungkan pada tipe tertentu
v   Tidak perlu mencari lagi panduan setiap mendesain
v  Tidak perlu menentukan pilihan-pilihan visi baru lagi
v  Dapat mengidentifikasi secara spesifik setiap kasus yang sama
v  Tidak memerlukan upaya yang membutuhkan konteks lain

Kekurangan Kritik Typikal
v  Desain hanya didasarkan pada solusi yang minimal
v  Sangat bergantung pada tipe yang sangat standard
v  Memiliki ketergantungan yang kuat pada satu type
v  Tidak memeiliki pemikiran yang segar
v  Sekadar memproduksi ulang satu pemecahan

Akibat yang Ditimbulkan Kritik Typikal
v  Munculnya Semiotica dalam arsitektur, satu bentuk ilmu sistem tanda (Science of sign systems) yang mengadopsi dari tipe ilmu bahasa. Walaupun kemudian banyak pakar menyangsikan kesahihan tipe ini. Dan menyebut Semiotica dalam arsitektur sebagai bentuk PSEUDO THEORITIC
v  Munculnya Pattern Language sebagaimana telah disusun oleh Christoper Alexander
v  Banyak penelitian yang mengarah pada hanya sekadar penampilan bentuk bangunan
v  Lahirnya arsitektur yang tidak memiliki keunikan dan bangunan yang bersifat individual.
v  Munculnya satu bentuk tipikal arsitektur yang eternal dan menguasai daya kreasi perancang
v  Lahirnya periode historis suatu konsep menjadi sebuah paham yang bersifat kolektif

REFERENSI







UNDANG UNDANG DAN PERATURAN PEMBANGUNAN NASIONAL


II. Peraturan Pemerintah Dan Peraturan Daerah

     Peraturan Pemerintah (disingkat PP) adalah Peraturan Perundang-undangan di Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Materi muatan Peraturan Pemerintah adalah materi untuk menjalankan Undang-Undang. Di dalam UU No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dinyatakan bahwa Peraturan Pemrintah sebagai aturan organik daripada Undang-Undang menurut hirarkinya tidak boleh tumpangtindih atau bertolak belakang.
Peraturan Pemerintah ditandatangani oleh Presiden.

     Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah (gubernur atau bupati/wali kota).
Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Peraturan Daerah terdiri atas:
Peraturan Daerah Provinsi, yang berlaku di provinsi tersebut. Peraturan Daerah Provinsi dibentuk oleh DPRD Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur.

Peraturan Daerah Kabupaten/Kota, yang berlaku di kabupaten/kota tersebut. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dibentuk oleh DPRD Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tidak subordinat terhadap Peraturan Daerah Provinsi.
Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Peraturan Daerah dikenal dengan istilah Qanun. Sementara di Provinsi Papua, dikenal istilah Peraturan Daerah Khusus dan Peraturan Daerah Provinsi.

     II.III. UU No.24 Tahun 1992 Tentang Tata Ruang

Tentang : Penataan Ruang
Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Nomor : 24 TAHUN 1992 (24/1992)
Tanggal : 13 OKTOBER 1992 (JAKARTA)
Sumber : LN 1992/115; TLN NO. 3501
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Presiden Republik Indonesia,

Menimbang:
a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila;

b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan
lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional;

c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan
pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang;Mengingat:

1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) UndangUndang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043);
3. Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Dacrah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3037);
4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran NegaraTahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);
5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Kcamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana telah diubah dengan Undang undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368);

Dengan persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG.
-Undang Undang No. 24 Tahun 1992 Tentang : Penataan Ruang

 Menimbang:

a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai
karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak
dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan
keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang
perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan
pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila;
b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di
daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi
dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan
dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan
mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan
yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan
lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan
lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan
Nasional;
c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan
pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang
penataan ruang;
                                             Pasal 1 :

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan
ruang udara sebagai. satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara
kelangsungan hidupnya.
2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik
direncanakan maupun tidak.
3. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
4. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.
6. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya.
7. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi
ulama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan.
8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi
utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama
pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan
fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan
jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional
mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan.
sumber :  ( http://portal.djmbp.esdm.go.id/sijh/UU%2024-1992.pdf )

II.I. Tata Hukum Kebijakan Negara
Menggapi pengertian Tata Hukum Kebijakan Negara adalah bahwa hukum yang mengatur negara,pembentukan lembaga da sebagainya. Seperti yang dijelaskan di[pengertian sebelumnya bahwa Hukum yang berlaku pada saat tertentu disebut hukum positif. Manusia memerlukan keadilan dalam hidupnya. Contohnya adalah rasa adil dalam hukum. Setelah terbukti melakukan kesalahan yang tidak diperbuat,lalu seseorang menyalahkannya maka rasa adil dalam hukum pun muncul dalam dirinya untuk mebela dirinya dari ketidakadilan itu. Hukum akan selalu berkembang mengikuti zaman.Bahkan hukum dapat berubah berubah sesuai undang-undang yang berlaku.
Setelah itu terdapat kebijakan negara. Kebijakan negara merupakan kepentingan negara seperti kebijakan moneter negara,kebijakan luar negri. Contoh kebijakan luar negri adalah masyarakat yang ingin ke luar negri diharuskan membawa visa ataupun passpor. Diperlukan untuk mengetahui identitas seseorang itu dan memberikan izin untuk seseorang untuk masuk dalam negara tersebut dengan periode waktu tertentu

 II.II. Peraturan Pemerintah Dan Peraturan Daerah
Peraturan Pemerintah ditetapkan oleh presiden untuk menjalankan undang-undang dengan baik. Negara ini membutuhkan undang-undang untuk mengatur negara agar lebih baik dan semua sudah ditetapkan dalam UU. Negara bila tidak mempunyai peraturan UU akan berakibat “acak-acakan” atau bisa dibilang tidak terkendali. Karena Fungsi Peraturan Pemerintah mempunyai peran sangatlah penting maka dari itu sudah tugas kita mematuhi peraturan tersebut dengan berperilaku baik dikehidupan bermasyarakat ini.
Selanjutnya adalah,Peraturan Daerah yang dibentuk oleh DPR dan disetujui oleh kepala daerah. Berfungsi untuk mengatur daerah tersebut dan mengatur otonomi daerah.Selain itu dapat juga berfungsi membantu kondisi yang berada disekitar daerah tersebut serta menampung sesuatu seperti aspirasi rakyat dari daerah tersebut agar kedepannya lebih baik lagi dan sebagainya.

 II.III. UU No.24 Tahun 1992 Tentang Tata Ruang
Dijelaskan dalam pengertian tersebut bahwa ruang yang berada di wilayah Indonesia merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa yang belom dikembangkan,belum menampung,dan belum membangun sesuai tuntutan pembangunan. Maka dari itu ada baiknya kita sebagai manusia memanfaatkan Tata Ruang dengan baik dan dapat berfungsi semaksimal mungkin. Agar kedepannya dapat bermanfaat bagi pembangunan dalam jangka waktu yang lama. Tata Ruang di Indonesia masih perlu di kondusifkan dengan sirkulasi yang banyak agar udara dapat lewat dengan baik dan tidak pengap didalam ruang tersebut. Tata Ruang juga dapat diatur dengan perletakan barang yang banyak dengan menyusun rapih barang tersebut dan memasukan barang seperlunya saja dalam ruang. Dewasa ini banyak ruang yang terhimpit atau bisa dibilang sempit dikarenakan terlalu banyak barang dan bisa dibilang kurang sirkulasi.

 II.IV. UU No.4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
Pembangunan Pemukiman dan perumahan di negara Indonesia ini sangat dibutuhkan keserasian,aman,dan layak untuk dihuni. Perumahan dan Pemukiman yang baik dapat menjaga kelestariannya dengan baik. Pembangunan perumahan dan permukiman sebagai bagian dari pembangunan nasional di negara Indonesia ini perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan secara terus menerus dan terpadu agar berkembang menjadi Perumahan dan Permukiman yang berkesinambungan dan bermanfaat bagi pemakai ataupun oranglain disekitarnya.
Untuk meningkatkan fungsi,mutu kehidupan serta kesejahteraan dalam Perumahan dan Permukiman di negara ini dibutuhkan tata ruang fisik yang serasi dan teratur. Banyak Perumahan dan Permukiman di negara ini yang berlebih bahkan setelah dibangun lalu baru setengah jadi dan tidak ditinggali oleh penghuni. Banyak juga permukiman yang dibangun orang yang tidak mampu,dan banyak permukiman itu terletak di pinggir kereta dan dibantaran kali yang seharusnya tidak diperbolehkan ditempatkan disitu, Untuk mengatasi Pembangunan Perumahan dan Permukiman yang berlebihan dibuatlah UU No.4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman.

Pengantar Hukum Pranata Pembangunan


BAB. I. PENGANTAR HUKUM PRANATA PEMBANGUNAN

I.I. Pengertian Hukum Pranata Pembangunan

      HUKUM PRANATA PEMBANGUNAN

Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan. dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana, hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara perwakilan di mana mereka yang akan dipilih. Administratif hukum digunakan untuk meninjau kembali keputusan dari pemerintah, sementara hukum internasional mengatur persoalan antara berdaulat negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan lingkungan peraturan atau tindakan militer. filsuf Aristotle menyatakan bahwa “Sebuah supremasi hukum akan jauh lebih baik dari pada dibandingkan dengan peraturan tirani yang merajalela.

PRANATA PEMBANGUNAN
Pranata pembangunan sebagai suatu sistem adalah sekumpulan pelaku dalam kegiatan membangun (pemilik, perencana, pengawas, dan pelaksana) yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lain serta memiliki batas-batas yang jelas untuk mencapai satu tujuan.

Kegiatan pembangunan memiliki empat unsur pokok, adalah manusia, kekayaan alam, modal, dan teknologi. Pembangunan sebagai suatu sistem yang kompleks mengalami proses perubahan dari yang sederhana sampai dengan yang rumit/kompleks. Proses perubahan tersebut mengalami perkembangan perubahan cara pandang, beberapa cara pandang tersebut adalah pertumbuhan (GROWTH), perubahan strukutr (STRUCTURAL CHANGE), ketergantungan (DEPENDENCY), pendekatan sistem (SYSTEM APPROACH), dan penguasaan teknologi (TECHNOLOGY).

Arsitektur adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang keterkaitan antara manusia dengan lingkungan binaan-nya, dan ruang adalah wujud manifestasi dari manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada tiga aspek penting dalam arsitektur, yaitu : firmitas (kekuatan atau konstruksi), utilitas (kegunaan atau fungsi), dan venustas (keindahan atau estetika).

Didalam proses membentuk ruang dari akibat kebutuhan hidup manusia, maka ada cara (teknik) dan tahapan (metoda) untuk berproduksi dalam penciptaan ruang. Secara hirarki dapat disebutkan ‘ruang tidur’ ruang untuk istirahat sampai dengan ‘ruang kota’ ruang untuk melakukan aktifitas sosial, ekonomi, dan budaya. Secara fungsi ruang memiliki peran yang berbeda menurut tingkat kebutuhan hidup manusia itu sendiri, seperti ruang makan, ruang kerja, ruang baca, dan seterusnya. Secara structural ruang memiliki pola susunan yang beragam, ada yang liniear, radial, mengelompok, dan menyebar. Estetika adalah pertimbangan penciptaan ruang yang mewujudkan rasa nyaman, rasa aman, dan keindahan.

Dalam penciptaan ruang (bangunan) dalam dunia profesi arsitek ada beberapa aktor yang terlibat dan berinteraksi, adalah pemilik (owner), konsultan (arsitek), kontraktor (pelaksana), dan unsur pendukung lainnya.

·         Ada tiga aspek penting dalam arsitektur, yaitu :
1.   firmitas (kekuatan dalam konstruksi),
2.   utilitas (kegunaan atau fungsi), dan
3.   venustas (keindahan atau estetika)

·         Unsur-unsur pokok dalam kegiatan pembangunan adalah :
1. Manusia
2. Kekayaan alam
3. Modal
4. Teknologi
I.II.     Struktur Hukum Pranata Pembangunan
Struktur Hukum Pranata di Indonesia :
Legislatif (MPR-DPR), pembuat produk hukum
Eksekutif (Presiden-pemerintahan), pelaksana perUU yg dibantu oleh Kepolisian (POLRI) selaku institusi yang berwenang melakukan penyidikan; JAKSA yg melakukan penuntutan
Yudikatif (MA-MK) sabagai lembaga penegak keadilan
        Mahkamah Agung (MA) beserta Pengadilan Tinggi (PT) & Pengadilan Negeri (PN) se-Indonesia mengadili perkara yg       kasuistik; Sedangkan Mahkamah Konstitusi (MK) mengadili perkara peraturan PerUU
Lawyer, pihak yg mewakili klien utk berperkara di pengadilan, dsb.
Sumber:


PENGALAMAN ARSITEKTUR TERHADAP LINGKUNGAN


Eghi darmawan
22312386

SIAPA YANG SALAH ??

Pada tahun 1997 saya dan keluarga pindah ke suatu komplek perumahan di tangerang. pertama kali saya pindah dengan keadaan sekitar sangat sejuk karena banyaknya pohon-pohon yg rindang, tetapi keadaan seperti itu tidak bertahan lama. di sekitar tahun 2011 pohon-pohon itu di tebang oleh pihak PLN lalu saya bertanya kepada petugas pln tersebut, "knp pohon itu di tebang ?". dan petugas itu menjawab " pohon ini kami tebang karena mengenai jalur kabel, yg akan menghambat aliran listrik dan dapat membuat lapisan tembaga terkelupas karena gesekan dari ranting pohon". kalo sudah begini siapa yg salah ?? pengembang kaah ? arsiteknya ? atau bahkan pihak PLN ?


ini gambar waktu saya baru pindah:


saya hanya punya keadaan di masjid saya. dan masih terdapat pohon



dan ini keadaan sekarang

pohonya sudah banyak yg hilang, dan hanya tersisa beberapa saja, pohon yg tidak melewati kabel listrik masih aman

Arsitektur hijau

Eghi darmawan
22312386
2 TB 02

GREEN ARCHITECTURE
Di era modern saat ini banyak sekali arsitek yg menggunakan konsep green architecture, karena adanya kesadaran masyarakat yg makin tinggi akan pentingnya melestarikan alam, hal ini juga untuk menghemat sumber daya alam yg tak terbarukan. Seiring persaingan di dunia arsitek berbagai konsep atau gagasan tentang green architecture pun bermunculan. karena Green Architecture atau sering disebut sebagai Arsitektur Hijau adalaharsitektur yang minim mengonsumsi sumber daya alam, ternasuk energi, air, dan material, serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. (Arsitektur Hijau, Tri Harso Karyono, 2010)

Arsitektur hijau merupakan langkah untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi dengan cara meminimalkan perusakan alam dan lingkungan di mana mereka tinggal. Istilah keberlanjutan menjadi sangat populer ketika mantan Perdana Menteri Norwegia GH Bruntland memformulasikan pengertian Pembangunan Berkelanjutan (sustaineble development) tahun 1987 sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia masa kini tanpa mengorbankan potensi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Keberlanjutan terkait dengan aspek lingkungan alami dan buatan, penggunaan energi, ekonomi, sosial, budaya, dan kelembagaan. Penerapanarsitektur hijau akan memberi peluang besar terhadap kehidupan manusia secara berkelanjutan. Aplikasui arsitektur hijau akan menciptakan suatu bentuk arsitektur yang berkelanjutan. Berikut ini adalah beberapa contoh gambar-gambar bangunan yang menggunakan konsep Green Architecture.

Green architecture merupajan Sebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien dan optimal.
Arsitektur hijau mulai tumbuh sejalan dengan kesadaran dari para arsitek dan seluruh umat manusia akan keterbatasan alam dalam menyuplai material yang mulai menipis.Alasan lain digunakannya arsitektur hijau adalah untuk memaksimalkan potensi site.
Penggunaan material-material yang bisa didaur-ulang juga mendukung konsep arsitektur hijau, sehingga penggunaan material dapat dihemat.
Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik).
Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep Arsitektur hijau apabila bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan. Maksud tidak bersifat ramah terhadap lingkungan disini tidak hanya dalam perusakkan terhadap lingkungan. Tetapi juga menyangkut masalah pemakaian energi.Oleh karena itu bangunan berkonsep green architecture mempunyai sifat ramah terhadap lingkungan sekitar, energy dan aspek – aspek pendukung lainnya.

PRINSIP-PRINSIP GREEN ARCHITECTURE :
1. Hemat energi / Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik ( sebisa mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan ).
2. Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendisain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.
3. Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang /
Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam.
4. Tidak berdampak negative bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan tersebut / Respect for site : Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak aslinya masih ada dan tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada ).
5. Merespon keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.
6. Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara keseluruhan: Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan bangunan kita.

KEPEDULIAN ARSITEKTUR TERHADAP LINGKUNGAN



eghi darmawan

22312386
2tb02


Kepedulian Arsitektur terhadap Lingkungan salah satunya dengan pembuatan Green Roof



Apa itu Green Roof ? Atap hijau (green roof) adalah atap sebuah bangunan yang sebagian atau seluruhnya ditutupi dengan vegetasi dan media tumbuh, ditanam di atas membran anti air. Ini juga termasuk lapisan tambahan seperti penghalang akar dan drainase sebagai sistem irigasi. (Penggunaan “hijau” mengacu pada tren yang berkembang secara ramah lingkungan dan tidak mengacu pada atap yang hanya berwarna hijau)
Istilah green roof juga dapat digunakan untuk menunjukkan atap yang menggunakan beberapa bentuk “teknologi hijau”, seperti atap dingin, atap dengan kolektor panas matahari atau modul fotovoltaik. Green roof juga disebut sebagai eco-roof, oikosteges, atap tumbuhan, dan atap hidup.



Terdapat 2 jenis Green Roof
 1. Atap intensif (intensive roof): lebih tebal dan dapat mendukung berbagai tanaman yang lebih luas tetapi lebih berat dan memerlukan perawatan lebih.



2.  Atap yang luas(extensive green roof): media tanam (tanah) yang dangkal, dan tanaman yang digunakan adalah tanaman hias ringan. Taman atap ini mempunyai skala bangunan yang ringan dan sempit sehingga banyak digunakan pada bagian rumah yang tidak terlalu luas seperti garasi, atap rumah, teras, atau dinding.



Cara Pembuatan Green Roof
Sebelum membuat Green Roof ( Atap Hijau ), pertimbangkan dulu konstruksi atap bangunan. Apakah memang didesain untuk mendukung beban media tanam berupa tanah dan pepohonan yang akan ditanam di atasnya atau tidak. Dikarenakan, taman diatas atap (roof garden) harus didukung struktur dan konstruksi atap yang kuat.
Untuk media tanam, komposisinya harus ringan namun memiliki kemampuan menyediakan zat hara dan kelembaban. Misalnya, dengan mencampurkan pasir dengan serutan kayu ditambah lapisan kulit pinus serta pupuk. Kedalaman media tanam untuk rumput membutuhkan 20 sampai 30 sentimeter, begitu juga tanaman penutup. Sementara itu, semak dan pohon kecil membutuhkan kedalaman 60-105 sentimeter. Pohon besar perlu kedalaman hampir 2 meter.

  Kontruksi Green Roof
Melapisi dengan water proofing. Biarkan selama sehari sampai benar-benar kering, Aci, yaitu penambahan lapisan semen, membutuhkan pengeringan selama sehari, Beri lapisan penahan air (drainage cell) dan lapisan penahan tanah (geotextile).
Hamparan diberi tanah dan siap ditanami tumbuhan. Penanaman diawali rumput, semak, perdu baru tanaman pohon. Untuk mencegah kerusakan lapisan kedap air (water proof layer), lapisan penahan harus ditambah agar akar tanaman tidak merusak lapisan kedap air dan beton di bawahnya, dan tidak ketinggalan membuat pembuangan air.
            Karena atap rentan mengalami kebocoran, jadi harus dibuat saluran pembuangan air yang dilengkapi dengan filter sehingga air yang mengalir ke bawah tidak membawa serta butiran tanah yang bisa menyumbat saluran pembuangan air.  Untuk mencegah kerusakan pada lapisan kedap air, maka perlu ditambah lapisan penahan air agar akar tanaman tidak merusak lapisan kedap air tersebut.
Air hasil pembuangan juga dapat dimanfaatkan sebagai penyiram tanaman